Prof DR. Sumaryoto, Rektor Unindra Jakarta, Pendidikan Karakter Bangsa Perlu Keteladanan

Untuk mengembalikan pada karakter bangsa seperti yang selama ini menjadi keprihatinan dan diperbincangkan kalangan pengamat dan sesepuh bangsa sebenarnya cukup simple. Diantaranya dengan menghidupkan kembali Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang saat ini kurang gaung. Untuk itu, perlu pembenahan sistem kemudian dilembagakan secara konsisten dan berkesinambungan. Hal ini untuk memenuhi persyaratan dalam rangka membina karakter khususnya bagi anak didik sebagai generasi penerus bangsa. Demikian dikatakan Prof. Dr. SumaryotoRektor Unindra (Universitas Indraprasta) Jakarta dalam perbincangan dengan Obsesi di rumahnya beberapa waktu yang lalu.

Selanjutnya ia bertutur, untuk membangun karakter bangsa bagi generasi muda dari sisi praktis perlu adanya perilaku keteladanan mulai orangtua, guru, pimpinan dari level bawah hingga yang paling atas. Tanpa adanya keteladanan, niscaya upaya itu akan mustahil dapat terwujud. Karena masalah karakter bangsa tidak cukup hanya ada dalam kurikulum pendidikan tanpa adanya keteladanan di tengah masyarakat. Dengan keteladanan bagi para pemimpin, anak didik dengan mudah meniru dan mencermati bagaimana menjalani kehidupan yang baik.

DAMPAK GLOBALISASI.
Selain itu, lunturnya karakter bangsa salah satu sebab dari dampak globalisasi. Globalisasi merupakan suatu kondisi yang memungkinkan begitu mudah masuknya unsur-unsur budaya luar dan unsur yang lain seperti politik, ekonomi dan perilaku atau budaya. Khusus mengenai budaya sangat mudah mempengaruhi karena anak-anak mudah melihat dan meniru. Hal ini apabila tidak dipagari dengan benteng tentang jatidiri dan budi pekerti maka anak-anak kita akan mudah terpengaruh arus globalisasi dan semakin jauh dari akar budayanya sendiri.
Menurut Sumaryoto, saat ini terjadi suatu trend dimana anak muda lebih antusias untuk belajar bahasa asing dibanding dengan bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Padahal bahasa daerah atau bahasa nenek moyang apa pun sukunya sangat kental dengan budaya dan mampu membentuk karakter yang kuat sebagai generasi yang memiliki karakter bangsa. Tentang bagaimana mengembalikan agar anak didik tidak melupakan bahasa leluhur ini amat tergantung dari politicalwill dari para pembuat kebijakan yang duduk dalam pemerintahan.

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL
Pria yangmemimpin sebuah perguruan tinggi swasta dengan lebih dari 15.000 mahasiswa ini tidak sependapat dengan adanya Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang diselenggarakan oleh sekolah negeri. Sekolah bertaraf internasional menurutnya semestinya hanya diselenggarakan oleh sekolah swasta yang mapan dan memenuhi syarat. Sementara sekolah negeri berkosentrasi bagaimana meningkatkan sumber daya manusia dan tarap hidup termasuk menjaga agar bahasa dan budaya nasional ini tetap kokoh dan utuh. Bahasa nasional dan bahasa daerah menjadi bahasa di rumah dan di lingungannya. Di sekolah SBI bahasa pengantar menggunakan bahasa asing (Inggris-red) sehingga anak didik lebih berkosentrasi pada pelajaran bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah.
Dunia pendidikan amat tergantung dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Sementara yang dilapangan hanya tinggal melaksanakan kebijakan yang digariskan oleh pemerintah. “Jadi jika masalah karakter bangsa yang disalahkan di lapangan khususnya dunia pendidikan tidaklah tepat. Karena yang dilapangan ini menjalankan system dan kebijakan yang digariskan peraturan pemerintah.” ujarnya lagi.

BAHASA DAERAH MENGANDUNG STRATA
Bahasa daerah termasuk bahasa Jawa adalah suatu bahasa yang tidak sederhana karena di dalamnya memuat tentang strata atau tingkatan sehingga terkesan rumit dan sulit. Hal inilah salah satu sebab anak-anak kurang tertarik untuk mempelajarinya. Ia berpendapat, kalau memang bahasa daerah terutama bahasa Jawa perlu dilestarikan, perlu diadakan pembenahan dan penataan bahasa daerah yang diajarkan kepada anak-anak dengan cara yang sederhana terlebih dahulu. Sedangkan untuk pendalamannya nanti pada level pendidikan yang lebih tinggi.
“Karena bahasa daerah rumit, maka untuk tingkat siswa sekolah dasar ini modulnya lebih disederhanakan saja, sehingga anak-anak lebih tertarik untuk mempelajarinya. Dengan anak didik tertarik mempelajari bahasa daerahnya maka akan terjaga dan melestarikan bahasa nenek moyang sebagai bahasa komunikasi sehari-hari” ujarnya.
Meski mendasari dengan bahasa daerah, namun bahasa nasional juga amat penting. Oleh karena itu bahasa Indonesia juga harus diberikan kepada anak didik mulai dari sekolah dasar atau bahkan TK. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang harus ditanamkan sejak dini. Justru dari anak-anak inilah mereka belajar bahasa nasional. Sebab kalau diajarkan terlambat dikhawatirkan bisa dengan mudah akan digeser atau dipengaruhi oleh bahasa lain.

Courtesy : mediaobsesi.com
*bigfamsti

Tag :

Post a Comment

[blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.